Search This Blog

Sunday, October 20, 2019

Cersex 18+ - Kenikmatan antara Ibu kost dan anak muda

Cersex Cerita Sex, Cerita Dewasa, Cerita
Ngentot, Cerita Mesum, Cerisex Terbaru
2015 – Cerita Sex: Gairah Yang Menggebu –
Wawan, seorang bujangan berumur 28 tahun
yang saat ini sedang kebingungan. Pasalnya,
panggilan pekerjaan dari sebuah perusahaan
dimana dia melamar begitu mendadak. Dia
bingung bagaimana harus mencari tempat
tinggal secepat ini. Perusahaan dimana dia
melamar terletak di luar kota, jangka waktu
panggilan itu selama empat hari, dimana dia
harus melakukan tes wawancara.

Akhirnya dia memaksa berangkat besoknya,
dengan tujuan penginapanlah dimana dia harus
tinggal. Dengan bekal yang cukup malah
berlebih mungkin, sampailah dia di penginapan
dimana perusahaan yang dia lamar terletak di
kota itu juga.
Sudah dua hari ini dia tinggal di penginapan itu,
selama ini dia sudah mepersiapkan segala
sesuatu yang dibutuhkan guna kelancaran
dalam tes wawancara nanti. Sampai pada
akhirnya, dia membaca di surat kabar, bahwa
disitu tertulis menerima kos-kosan atau tempat
tinggal yang permanen. Kemudian dengan
bergegas dia mendatangi alamat tersebut.
Sampai pada akhirnya, sampailah dia di depan
pintu rumah yang dimaksud itu.
Perlahan aku mengetuk pintu, tidak lama
kemudian terdengar suara kunci terbuka diikuti
dengan seorang wanita tua yang muncul.
“Iya, ada perlu apa, Pak..?”
“Oh, begini.., tadi saya membaca surat kabar,
disitu tertulis bahwa di rumah ini menyediakan
kamar untuk tempat tinggal.” sahut Wawan
seketika.
“Oh, ya, memang benar, silakan masuk Pak,
biar saya memanggil nyonya dulu,” wanita tua
itu mempersilakan Wawan masuk.
“Hm.., baik, terima kasih.”
Sejenak kemudian Wawan sudah duduk di kursi
ruang tamu.
Terlihat sekali keadaan ruang tamu yang sejuk
dan asri. Wawan memperhatikan sambil
melamun. Tiba-tiba Wawan dikejutkan oleh
suara wanita yang masuk ke ruang tamu.
“Selamat siang, ada yang perlu saya bantu..?”
Terhenyak Wawan dibuatnya, di depan dia
sekarang berdiri seorang wanita yang boleh
dikatakan belum terlalu tua, umurnya sekitar 40
tahunan, cantik, anggun dan berwibawa.
“Oh.., eh.. selamat siang,” Wawan tergagap
kemudian dia melanjutkan, “Begini Bu..”
“Panggil saya Bu Mira..,” tukas wanita itu
menyahut.
“Hm.., o ya, Bu Mira, tadi saya membaca surat
kabar yang tertulis bahwa disini ada kamar
untuk disewakan.”
“Oh, ya. Hm.., siapa nama anda..?”
“Wawan Bu,” sahut Wawan seketika.
“Memang benar disini ada kamar disewakan,
perlu diketahui oleh Nak Wawan bahwa di
rumah ini hanya ada tiga orang, yaitu, saya,
anak saya yang masih SMA dan pembantu
wanita yang tadi bicara sama Nak Wawan, kami
memang menyediakan satu kamar kosong
untuk disewakan, selain agar kamar itu tidak
kotor juga rumah ini biar tambah ramai
penghuninya.”
dengan singkat Bu Mira menjelaskan
semuanya.
“Hm, suami Ibu..?” tanya Wawan singkat.
“Oh ya, saya dan suami saya sudah bercerai
satu tahun yang lalu,” jawab Bu Mira singkat.
“Ooo, begitu ya, untuk masalah biayanya,
berapa sewanya..?” tanya Wawan kemudian.
“Hm, begini, Nak Wawan mau mengambil
berapa bulan, biaya sewa sebulannya tujuh
puluh ribu rupiah,” jawab Bu Mira
menerangkan.
“Baiklah Bu Mira, saya akan mengambil sewa
untuk enam bulan,” kata Wawan.
“Oke, tunggu sebentar, Ibu akan mengambil
kuitansinya.”
Akhirnya setelah mengemasi barang-barang di
penginapan, tinggallah Wawan disitu dengan Bu
Mira, Ida anak Bu Mira dan Bik Sumi pembantu
Bu Mira.
Sudah satu bulan ini Wawan tinggal sambil
menunggu panggilan selanjutnya. Dan sudah
satu bulan ini pula Wawan punya keinginan
yang aneh terhadap Bu Mira. Wanita yang
anggun, cantik dan berwibawa yang cukup lama
hidup sendirian. Wawan tidak dapat
membayangkan bagaimana mungkin wanita
yang masih kelihatan muda dari segi fisiknya itu
dapat betah hidup sendirian. Bagaimana Bu
Mira menyalurkan hasrat seksualnya. Ingin
sekali Wawan bercinta dengan Bu Mira. Apalagi
sering Wawan melihat Bu Mira memakai daster
tipis yang menampilkan lekuk-lekuk tubuh Bu
Mira yang masih kelihatan kencang dan indah.
Ingin sekali Wawan menyentuhnya.
“Aku harus bisa mendapatkannya..!” gumam
Wawan suatu saat.
“Saya harus mencari cara,” gumamnya lagi.
Sampai pada suatu saat kemudian, yaitu pada
saat malam Minggu, rumah kelihatan sepi,
maklum saja, Ida anak Bu Mira tidur di tempat
neneknya, Bik Sumi balik ke kampung selama
dua hari, katanya ada anaknya yang sakit.
Tinggallah Wawan dan Bu Mira sendirian di
rumah. Tapi Wawan sudah mempersiapkan
cara bagaimana melampiaskan hasratnya
terhadap Bu Mira. Lama Wawan di kamar, jam
menunjukkan pukul delapan malam, dia
melihat Bu Mira menonton TV di ruang tengah
sendirian. Akhirnya setelah mantap, Wawan
pun keluar dari kamarnya menuju ke ruang
tengah.
“Selamat malam, Bu, boleh saya temani..?”
sejenak Wawan berbasa-basi.
“Oh, silakan Nak Wawan..,” mempersilakan Bu
Mira kepada Wawan.
“Ngomong-ngomong, tidak keluar nih Nak
Wawan, malam Minggu loh, masa di rumah
terus, apa tidak bosan..?” tanya Bu Mira
kemudian.
“Ah, nggak Bu, lagian keluar kemana, biasanya
juga malam Minggu di rumah saja,” jawab
Wawan sekenanya.
Lama mereka berdua terdiam sambil
menikmati acara TV.
“Oh, ya, Bu, boleh saya buatkan minum..?”
tanya Wawan tiba-tiba.
“Lho, tidak usah Nak Wawan, kok repot-repot..,”
“Ah, nggak apa-apa, sekali-kali saya yang
buatkan minuman untuk Ibu, masak Ibu dan Bik
Sumi saja yang selalu membuatkan minuman
untuk saya.”
“Hm.., boleh kalau begitu, Ibu ingin minum teh
saja,” kata Bu Mira sambil tersenyum.
“Baiklah Bu, kalau begitu tunggu sebentar.”
segera Wawan bergegas ke dapur.
Tidak lama kemudian Wawan sudah kembali
sambil membawa nampan berisi dua teh dan
sedikit makanan kecil di piring.
“Silakan Bu, diminum, mumpung masih
hangat..!”
“Terima kasih, Nak Wawan.”
Akhirnya setelah sekian lama terdiam lagi,
terlihat Bu Mira sudah mulai mengantuk, tidak
lama kemudian Bu Mira sudah tertidur di kursi
dengan keadaan memakai daster tipis yang
menampilkan lekuk-lekuk tubuh dan
payudaranya yang indah. Tersenyum Wawan
melihatnya.
“Akhirnya aku berhasil, ternyata obat tidur yang
kubeli di apotik siang tadi benar-benar manjur,
obat ini akan bekerja untuk beberapa saat
kemudian,” gumam Wawan penuh
kemenangan.
“Beruntung sekali tadi Bu Mira mau kubuatkan
teh, sehingga obat tidur itu dapat kucampur
dengan teh yang diminum Bu Mira,” gumamnya
sekali lagi.
Sejenak Wawan memperhatikan Bu Mira, tubuh
yang pasrah yang siap dipermainkan oleh lelaki
manapun. Timbul gejolak kelelakian Wawan
yang normal tatkala melihat tubuh indah yang
tergolek lemah itu. Diremas-remasnya dengan
lembut payudara yang montok itu bergantian
kanan kiri sambil tangan yang satunya
bergerilnya menyentuh paha sampai ke ujung
paha. Terdengar desahan perlahan dari mulut
Bu Mira, spontan Wawan menarik kedua
tangannya.
“Mengapa harus gugup, Bu Mira sudah
terpengaruh obat tidur itu sampai beberapa
saat nanti,” gumam Wawan dalam hati.
Akhirnya tanpa pikir panjang lagi, Wawan
kemudian membopong tubuh Bu Mira
memasuki kamar Wawan sendiri. Digeletakkan
dengan perlahan tubuh yang indah di atas
tempat tidur, sesaat kemudian Wawan sudah
mengunci kamar, lalu mengeluarkan tali yang
memang sengaja dia simpan siang tadi di laci
mejanya.
Baca Cerita Sex Lainya –> https://cersex18plus.blogspot.com/



Tidak lama kemudian Wawan sudah mengikat
kedua tangan Bu Mira di atas tempat tidur.
Melihat keadaan tubuh Bu Mira yang telentang
itu, tidak sabar Wawan untuk melampiaskan
hasratnya terhadap Bu Mira.
“Malam ini aku akan menikmati tubuhmu yang
indah itu Bu Mira,” kata Wawan dalam hati.
Satu-persatu Wawan melepaskan apa saja yang
dipakai oleh Bu Mira. Perlahan-lahan, mulai
dari daster, BH, kemudian celana dalam,
sampai akhirnya setelah semua terlepas,
Wawan menyingkirkannya ke lantai. Terlihat
sekali sekarang Bu Mira sudah dalam keadaan
polos, telanjang bulat tanpa sehelai benang pun
yang menutupi tubuhnya. Diamati oleh Wawan
mulai dari wajah yang cantik, payudara yang
montok menyembul indah, perut yang ramping,
dan terakhir paha yang mulus dan putih dengan
gundukan daging di pangkal paha yang tertutup
oleh rimbunnya rambut.
Sesaat kemudian Wawan sudah menciumi
tubuh Bu Mira mulai dari kaki, pelan-pelan naik
ke paha, kemudian berlanjut ke perut dan
terakhir ciuman Wawan mendarat di payudara
Bu Mira. Sesekali terdengar desahan kecil dari
mulut Bu Mira, tapi Wawan tidak
memperdulikannya. Diciumi dan diremas-
remas kedua payudara yang indah itu dengan
mulut dan kedua tangan Wawan. Puting merah
jambu yang menonjol indah itu juga tidak lepas
dari serangan-serangan Wawan. Dikulum-kulum
kedua puting itu dengan mulutnya dengan
perasaan dan gairah birahi yang sudah
memuncak. Setelah puas Wawan melakukan itu
semua, perlahan-lahan dia bangkit dari tempat
tidur.
Satu-persatu Wawan melepas pakaian yang
melekat di badannya, akhirnya keadaan
Wawan sudah tidak beda dengan keadaan Bu
Mira, telanjang bulat, polos, tanpa ada sehelai
benang pun yang menutupi tubuhnya. Terlihat
kemaluan Wawan yang sudah mengencang
hebat siap dihunjamkan ke dalam vagina Bu
Mira. Tersenyum Wawan melihat rudalnya yang
panjang dan besar, bangga sekali dia
mempunyai rudal dengan bentuk begitu.
Perlahan-lahan Wawan kembali naik ke tempat
tidur dengan posisi telungkup menindih tubuh
Bu Mira yang telanjang itu, kemudian dia
memegang rudalnya dan pelan-pelan
memasukkannya ke dalam vagina Bu Mira.
Wawan merasakan vagina yang masih rapat
karena sudah setahun tidak pernah tersentuh
oleh laki-laki. Akhirnya setelah sekian lama,
rudal Wawan sudah masuk semuanya ke dalam
vagina Bu Mira.
Ketika Wawan menghunjamkan rudalnya ke
dalam vagina Bu Mira sampai masuk semua,
terdengar rintihan kecil Bu Mira,
“Ah.., ah.., ah..!”
Tapi Wawan tidak menghiraukannya, dia lalu
menggerakkan kedua pantatnya maju munjur
dengan teratur, pelan-pelan tapi pasti.
“Slep.., slep.., slep..,” terdengar setiap kali ketika
Wawan melakukan aktivitasnya itu, diikuti
dengan bunyi tempat tidur yang berderit-derit.
“Uh.., oh.., uh.., oh..,” sesekali Wawan mengeluh
kecil, sambil tangannya terus meremas-remas
kedua payudara Bu Mira yang montok itu.
Lama Wawan melakukan aktivitasnya itu,
dirasakannya betapa masih kencangnya dan
rapatnya vagina Bu Mira. Akhirnya Wawan
merasakan tubuhnya mengejang hebat,
merapatkan rudalnya semakin dalam ke vagina
Bu Mira.
“Ser.., ser.., ser..,” Wawan merasakan cairan
yang keluar dari ujung kemaluannya mengalir
ke dalam vagina Bu Mira.
“Oh.. ah.. oh.. Bu Mira.., oh..!” terdengar keluhan
panjang dari mulut Wawan.
Setelah itu Wawan merasakan tubuhnya yang
lelah sekali, kemudian dia membaringkan
tubuhnya di samping tubuh Bu Mira dengan
posisi memeluk tubuh Bu Mira yang telah
dinikmatinya itu.
Lama Wawan dalam posisi itu sampai pada
akhirnya dia dikejutkan oleh gerakan tubuh Bu
Mira yang sudah mulai siuman. Secara reflek,
Wawan bangkit dari tempat tidurnya menuju ke
arah saklar lampu dan mematikannya. Tertegun
Wawan berdiri di samping tempat tidur dalam
kamar yang sudah dalam keadaan gelap gulita
itu. Sesaat kemudian terdengar suara Bu Mira.
“Oh, dimana aku, mengapa gelap sekali..?”
Sebentar kemudian suasana menjadi hening.
“Dan, mengapa tanganku diikat, dan, oh..,
tubuhku juga telanjang, kemana pakaianku,
apa yang terjadi..?” terdengar suara Bu Mira
pelan dan serak.
Suasana hening agak lama. Wawan tidak tahu
apa yang harus dilakukannya. Dia diam saja.
Terdengar lagi suara Bu Mira mengeluh, “Oh..,
tolonglah aku..! Apa yang terjadi padaku,
mengapa aku bisa dalam keadaan begini, siapa
yang melakukan ini terhadapku..?” keluh Bu
Mira.
Akhirnya timbul kejantanan dalam diri Wawan,
bagaimanapun setelah apa yang dia lakukan
terhadap Bu Mira, Wawan harus berterus
terang mengatakannya semuanya.
“Ini saya..,” gumam Wawan lirih.
“Siapa, kamukah Yodi..? Mengapa kamu
kembali lagi padaku..?” sahut Bu Mira agak
keras.
“Bukan, ini saya Bu.., Wawan..,” Wawan
berterus terang.
“Wawan..!” kaget Bu Mira mendengarnya.
“Apa yang kamu lakukan pada Ibu, Wawan..?
Bicaralah..! Mengapa Ibu kamu perlakukan
seperti ini..?” tanya Bu Mira kemudian.
Kemudian Wawan bercerita mulai dari awal
sampai akhir, bagaimana mula-mula dia
tertarik pada Bu Mira, sampai pada
keheranannya bagaimana juga Bu Mira dapat
hidup sendiri selama setahun tanpa ada laki-
laki yang dapat memuaskan hasrat birahi Bu
Mira. Juga tidak lupa Wawan menceritakan
semua yang dia lakukan terhadap Bu Mira
selama Bu Mira tidak sadar karena pengaruh
obat tidur. Tertegun Bu Mira mendengar semua
perkataan Wawan. Lama mereka terdiam, tapi
terdengar Bu Mira bicara lagi.
“Wawan.., Wawan.., Ibu memang menginginkan
laki-laki yang bisa memuaskan hasrat birahi
Ibu, tapi bukan begini caranya, mengapa kamu
tidak berterus-terang pada Ibu sejak dulu,
kalaupun kamu berterus terang meminta
kepada Ibu, pasti Ibu akan memberikannya
kepadamu, karena Ibu juga merasakan
bagaimana tidak enaknya hidup sendiri tanpa
laki-laki.”
“Terus terang saya malu Bu, saya malu kalau
Ibu menolak saya.”
“Tapi setidaknya kan, berterus terang itu lebih
sopan dan terhormat daripada harus
memperlakukan Ibu seperti ini.”
“Saya tahu Bu, saya salah, saya siap menerima
sanksi apapun, saya siap diusir dari rumah ini
atau apa saja.”
“Oh, tidak Wawan, bagaimanapun kamu telah
melakukannya semua terhadap Ibu. Sekarang
Ibu tidak lagi terpengaruh oleh obat tidur itu
lagi, Ibu ingin kamu melakukannya lagi
terhadap Ibu apa yang kamu perbuat tadi, Ibu
juga menginginkannya Wawan tidak hanya
kamu saja.”
“Benar Bu..?” tanya Wawan kaget.
“Benar Wawan, sekarang nyalakanlah
lampunya, biar Ibu bisa melihatmu seutuhnya,”
pinta Bu Mira kemudian.
Tanpa pikir panjang lagi, Wawan segera
menyalakan lampu yang sejak tadi padam.
Sekarang terlihatlah kedua tubuh mereka yang
sama-sama polos, dan telanjang bulat dengan
posisi Bu Mira terikat tangannya.



“Oh Wawan, tubuhmu begitu atletis. Kemarilah,
nikmatilah tubuh Ibu, Ibu menginginkannya
Wawan..! Ibu ingin kamu memuaskan hasrat
birahi Ibu yang selama ini Ibu pendam, Ibu ingin
malam ini Ibu benar-benar terpuaskan.”
Perlahan Wawan mendekati Bu Mira,
diperhatikan wajah yang tambah cantik itu
karena memang kondisi Bu Mira yang sudah
tersadar, beda dengan tadi ketika Bu Mira
masih tidak sadarkan diri. Diusap-usapnya
dengan lembut tubuh Bu Mira yang polos dan
indah itu, mulai dari paha, perut, sampai
payudara. Terdengar suara Bu Mira
menggelinjang keenakan.
“Terus.., Wawan.., ah.. terus..!” terlihat tubuh Bu
Mira bergerak-gerak dengan lembut mengikuti
sentuhan tangan Wawan.
“Tapi, Wawan, Ibu tidak ingin dalam keadaan
begini, Ibu ingin kamu melepas tali pengikat
tangan Ibu, biar Ibu bisa menyentuh tubuhmu
juga..!” pinta Ibu Mira memelas.
“Baiklah Bu.”
Sedetik kemudian Wawan sudah melepaskan
ikatan tali di tangan Bu Mira. Setelah itu Wawan
duduk di pinggir tempat tidur sambil kedua
tangannya terus mengusap-usap dan meremas-
remas perut dan payudara Bu Mira.
“Nah, begini kan enak..,” kata Bu Mira.

www.jintoto.com
AGEN TARUHAN TOGEL TERBAIK 

1 comment:

  1. jangan lupa juga kunjungi JINTOTO yang merupakan agen taruhan online terbaik dengan berbagai jenis permainan yang bisa dimainkan hanya dengan 1 user id saja dan minimal deposit hanya 10ribu dan dijamin aman dan terpercaya serta memiliki 6 pasaran togel terbaik.

    add kontak kami :

    - whatsapp : +855975107657
    - line : JINTOTOO

    ReplyDelete

Cerita Dewasa 18+ - saya wanita yang diperkosa oleh bos sendiri

Hari ini akhirnya aku masuk kerja lagi. Setelah peristiwa itu, aku memang ijin tidak masuk kerja selama 3 hari.  Aku beralasan s...