Hari ini akhirnya aku masuk kerja lagi. Setelah peristiwa itu, aku memang ijin tidak masuk kerja selama 3 hari.
Aku beralasan sakit, karena memang benar-benar sakit, baik fisik maupun
hatiku, juga kehormatanku. Bahkan sebenarnya saat ini aku juga masih
merasakan sakit di bagian vital tubuhku, tapi paling tidak aku sudah
tidak tertatih-tatih lagi kalau berjalan.
Aku sebenarnya masih takut masuk kerja, aku tak bisa membayangkan
bagaimana kalau bertemu dengan pak Jamal. Entah seperti apa nanti
ekspresi wajahnya saat melihatku. Aku takut dia meminta untuk mengulangi
perbuatan itu lagi.
Aku tidak ingin sampai itu terulang lagi, meskipun kemungkinannya kecil.
Aku tahu, dengan memiliki video persetubuhan kami pak Jamal pasti akan
mengancamku untuk menuruti kemauannya lagi. Eh tunggu, bukan
persetubuhan kami, tapi pemerkosaan yang dia lakukan kepadaku. Aku tak
rela menyebutnya persetubuhan, karena aku sama sekali tak
menginginkannya.
Harus kuakui, malam itu tubuhku menghianatiku. Tubuhku bereaksi dengan
setiap sentuhan dari pak Jamal. Tapi aku sangat yakin, itu semua karena
dia memberiku sesuatu, entah apa aku tak tahu. Dan harus kuakui juga
kalau aku sempat menikmatinya, tapi ketika semua itu berakhir, hanya
penyesalan dan rasa sakit hati yang kurasakan.
Satu hal yang paling kutakutkan dari perbuatan kami malam itu adalah
kalau aku sampai hamil. Malam itu berkali-kali pak Jamal menumpahkan
spermanya di dalam rahimku. Malam itu memang aku sedang tidak berada
dalam masa suburku, tapi siapa tahu saja dengan begitu banyaknya sperma
pak Jamal yang masuk ke rahimku, bisa saja membuahiku. Aku benar-benar
tak rela jika harus hamil karena perbuatannya, meskipun kalau sampai
benar-benar hamil aku tak tahu apa yang akan kulakukan.
Karena hal itulah, kemarin tanpa sepengetahuan suamiku, aku pergi ke
seorang dokter kandungan yang tak lain adalah temanku semasa sekolah
dulu. Awalnya dia kaget karena aku bertanya tentang KB, karena aku dan
mas Krisna sendiri belum memiliki anak. Apalagi dia sempat curiga
kepadaku karena aku datang sendirian, tidak didampingi mas Krisna. Tapi
aku beralasan kalau kami sepakat untuk menunda dulu punya momongan
karena mas Krisna sedang fokus mengejar karirnya, dan semua itu sudah
atas persetujuan mas Krisna. Untungnya dia percaya, dan tidak bertanya
macam-macam lagi.
Temanku itu menyarankan agar aku meminum pil KB saja saat akan
berhubungan badan, tidak perlu memasang spiral atau semacamnya karena
takutnya akan mempengaruhi kesuburanku sendiri. Aku sendiri setuju
dengan saran itu, karena kalau disarankan untuk menggunakan kondom,
jelas tidak akan ada gunanya. Pak Jamal mana mau menggunakannya.
Dan akhirnya, hari ini aku berangkat kerja diantar oleh suamiku. Dia
sebenarnya bertanya apakah aku sudah yakin untuk masuk kerja, tapi aku
bilang aku tak enak jika terlalu lama tak masuk kerja. Aku takut
teman-teman kantorku akan curiga, apalagi kata pak Jamal, selain aku ada
juga orang lain yang mengalami hal serupa dengan apa yang aku alami,
yang entah siapa orangnya aku juga belum tahu, pak Jamal tak
memberitahuku.
Sampai di kantor, aku disambut oleh teman-temanku. Mereka berbasa-basi
menanyakan aku kemarin sakit apa, dan apakah sekarang sudah sembuh
benar. Aku jawab sesuai dengan apa yang sudah aku persiapkan dari rumah.
Aku yang semula takut akan bertemu lagi dengan pak Jamal, hari itu bisa
bernafas lega karena ternyata pak Jamal tidak masuk, karena sedang
dinas di luar kota sejak kemarin. Yah, paling tidak aku tidak akan
bertemu dengannya sampai minggu depan.
Hari ini kulalui dengan biasa-biasa saja. Pekerjaan yang tertunda karena
aku tak masuk juga sudah beres, karena kemarin sempat dikerjakan oleh
temanku. Selama di kantor ini, beberapa kali aku memperhatikan temanku
yang perempuan, menerka-nerka siapa sebenarnya yang dimaksud oleh pak
Jamal, yang juga berhasil dia perdaya untuk menyerahkan tubuhnya. Tapi
tentu saja aku tidak bisa mengetahuinya. Bertanya pada mereka? Itu
adalah sebuah hal konyol yang tak akan aku lakukan, karena malah bisa
membuat mereka tahu apa yang terjadi padaku, dan betapa malunya aku
kalau sampai teman-temanku tahu.
Sore ini kembali mas Krisna menjemputku. Sepanjang perjalanan aku cerita
kalau hari ini aku merasa lega tak harus ketemu dengan pak Jamal.
Suamiku juga terlihat senang akan hal itu. Sesampainya di rumah, kami
beraktivitas seperti biasa. Aku menyiapkan makan malam untuk suamiku.
Aku senang karena dia selalu lahap memakan masakanku. Sebuah kebahagiaan
tersendiri melihat suami menyukai apa yang kita masak. Meskipun begitu,
di dalam hati aku menjerit, mengutuk diriku yang tak bisa menjaga diri
dan kehormatanku sebagai istri mas Krisna.
Aku tahu suamiku tak pernah menyalahkanku dalam hal ini, tapi tetap saja
perasaan bersalah ini tak bisa dihilangkan begitu saja. Aku kembali
teringat dengan ucapan suamiku tempo hari, yang mengatakan untuk memberi
pelajaran kepada pak Jamal. Aku belum tahu apa yang akan dilakukan oleh
suamiku, tapi takut suamiku akan berbuat nekat dan malah membahayakan
dirinya sendiri.
“Hmm, abi..”
“Iya umi, ada apa?”
“Itu, soal kata-kata abi kemarin, yang katanya mau balas dendam ke pak Jamal.”
“Oh itu, iya kenapa umi?”
“Emang abi mau ngapain? Apa yang akan abi lakukan? Jujur, umi takut.”
“Takut apa umi?”
“Umi takut kalau abi berbuat yang tidak-tidak. Umi takut kalau abi malah nanti yang kenapa-napa.”
“Lho kok umi ngomong gitu?”
“Iya bi. Soalnya, pak Jamal itu kan punya anak buah preman. Abi taulah,
preman itu kayak gimana. Umi takut aja kalau nanti abi kenapa-napa.”
“Hmm, umi tenang aja. Abi memang marah dengan pria biadab itu, tapi abi juga nggak akan ambil langkah konyol.”
“Syukurlah kalau gitu. Tapi kalau umi boleh tau, apa yang akan abi lakukan?”
“Terus terang umi, sampai sekarang abi masih terus mikirn. Abi belum tau
mau ngapain. Abi sempat kepikiran mau minta tolong sama orang buat
ngasih pelajaran ke si Jamal itu. Tapi setelah abi pikir lagi, minta
tolong sama orang, artinya abi harus ceritain semuanya ke orang itu. Abi
masih ragu, abi nggak mau sampai aib kita ini diketahui oleh orang
lain.”
Iya juga ya, benar apa yang dikatakan mas Krisna. Meminta bantuan pada
orang lain, tentunya akan lebih mudah bagi mas krisna untuk membalas
dendam. Tapi itu juga berarti harus menceritakan aib yang kualami. Aku
belum siap kalau ada orang lain yang tahu tentang apa yang kualami ini.
Mas Krisna sendiri pasti juga tidak mau aib ini sampai diketahui oleh
orang lain. Tapi kalau memang tidak begitu, apa mungkin mas Krisna mau
melakukannya sendirian? Jelas tidak mungkin. Mas Krisna hanyalah pria
biasa, seperti kebanyakan pria lain. Melakukan hal yang nekat sendirian
melawan pak Jamal yang punya anak buah preman, hanya akan berakhir
konyol untuknya.
“Abi..”
“Iya mi?”
“Apapun yang mau abi lakuin, umi mohon jangan nekat sendirian. Umi bener-bener takut kalau abi kenapa-napa.”
Mas Krisna tersenyum lembut padaku, dia membelai rambutku dengan lembut.
“Umi tenang aja, abi tau kok. Meskipun abi nggak terima dengan semua
ini, tapi abi tau harus cari cara yang pas buat menghadapi si Jamal itu.
Abi juga nggak mau mati konyol.”
Aku memeluk tubuh suamiku dengan erat, mendapat balasan serupa darinya.
“Umi..”
“Iya bi?”
“Kalau misalnya, abi terpaksa harus minta tolong sama orang, dan harus menceritakan semua ini, apa umi keberatan?”
Aku tak langsung menjawab. Kulepaskan pelukanku dari tubuh mas Krisna.
“Hmm, sebenarnya umi nggak mau bi, umi nggak siap. Tapi, kalau boleh tau, abi mau minta tolong siapa?”
“Abi juga belum tau mi, tapi yang pasti bukan ke sembarang orang, karena
ini menyangkut kehormatan umi. Paling tidak, orang itu adalah orang
yang udah kita kenal baik, dan nggak akan memanfaatkan balik situasi
ini.”
“Kalau memang begitu, umi setuju asalkan abi bisa dapet orang yang seperti itu.”
Mas Krisna kembali merengkuh tubuhku. Sepertinya memang harus begitu.
Harus minta tolong pada orang yang benar-benar sudah kami kenal baik,
yang bisa kami pastikan tidak akan memanfaatkan situasi ini untuk
mengambil keuntungan. Tapi siapa orangnya? Aku sama sekali tak punya
gambaran. Mungkin mas Krisna punya, tapi entahlah dia belum
memberitahukannya. Aku hanya berharap, entah apapun yang akan dilakukan
mas Krisna, semua ini akan berakhir baik untuk kami.
Tak terasa beberapa hari ini terlewati dengan lancar. Tidak adanya pak
Jamal di kantor membuatku bisa bersikap normal tanpa dibuat-buat di
depan teman-temanku. Rasa sakit yang kurasakan di bagian intimku juga
sudah hilang. Tapi meski begitu, mas Krisna belum menyentuhku. Katanya,
dia takut aku masih trauma atau sakit, jadi membiarkanku dulu sampai
benar-benar pulih. Aku sendiri juga tidak tahu, apakah sudah bisa
melayani suamiku seperti sebelumnya atau belum, karena memang kadang aku
masih terbayang kejadian malam itu.
Sampai akhirnya hari senin pak Jamal sudah masuk lagi di kantor. Aku
sempat gugup bertemu dengannya, bingung bagaimana harus bersikap. Tapi
ekspresi pak Jamal biasa-biasa saja. Dia malah membawakan oleh-oleh yang
lumayan banyak untuk kami semua di kantor. Sikapnya kulihat juga tak
ada yang berubah, masih seperti pak Jamal yang biasanya. Aku juga sempat
memperhatikan teman-teman kantorku yang perempuan saat mereka
berinteraksi dengan pak Jamal, tapi semua bersikap biasa-biasa saja. Aku
jadi bertanya-tanya, benarkah ada wanita lain di kantor ini yang sudah
dijebak oleh pak Jamal? Atau itu hanya karangan pak Jamal saja? Atau
justru mereka yang sudah dijebak oleh pak Jamal juga sedang berpura-pura
biasa didepannya? Entahlah, aku benar-benar tak tahu.
Selama beberapa hari sejak pak Jamal masuk lagi, tidak ada hal apapun
yang terjadi. Pak Jamal benar-benar bersikap biasa. Bahkan tak sekalipun
dia mencoba untuk mengisengiku. Semua yang kami lakukan di kantor
adalah murni urusan pekerjaan. Sempat aku dipanggil ke ruangannya, aku
pikir dia akan berbuat tidak senonoh padaku, tapi ternyata tidak.
Benar-benar hanya urusan pekerjaan.
Melihat itu semua aku jadi lega, sekaligus jijik. Lega karena pak Jamal
tidak melecehkanku sama sekali ketika di kantor. Dan jijik dengan sikap
pura-puranya itu. Dia bersikap layaknya seorang pemimpin yang baik dan
bijaksana, tapi di balik itu dia adalah seorang bajingan yang sudah tega
melecehkan anak buahnya sendiri.
Tapi meskipun begitu, aku harus selalu waspada. Setiap hari obat KB yang
diberikan oleh temanku tempo hari selalu kubawa di tasku, berjaga-jaga
kalau seandainya pak Jamal ingin melakukan sesuatu padaku. Kemarin waktu
aku dipanggil ke ruangannya saja, sempat kuminum dulu pil itu, meskipun
akhirnya tidak terjadi apa-apa.
Sampai suatu hari, sore hari sebelum kami pulang, pak Jamal tiba-tiba
keluar ruangan dan mendatangi mejaku. Kebetulan saat itu hanya tinggal
aku dan temanku yang bernama Sarah yang masih ada disitu, sedangkan
teman-temanku yang lain sudah berada di luar kantor, bersiap untuk
pulang. Pak Jamal membawa setumpuk berkas, kemudian meletakkannya di
meja Sarah, yang berada di samping mejaku.
“Sar, dokumen-dokumen ini tolong besok kamu selesain ya? Besok aku dan Arum nggak masuk, kami ada urusan di luar.”
Aku kaget mendengar ucapan pak Jamal karena sebelumnya dia tidak ngomong
apapun soal hal ini. Sarah pun juga terlihat terkejut, lalu melihat ke
arahku dengan tatapan bertanya-tanya.
“Rum, besok aku jemput di rumahmu jam 8. Tetep pake seragam dinas ya.”
Tanpa menunggu jawabanku, pak Jamal langsung pergi meninggalkan kami
berdua. Aku masih bingung, dan terlihat Sarah juga bingung melihatku.
“Emang besok mau kemana Rum?” tanya Sarah setelah pak Jamal keluar dari ruangan ini.
“Hmm, aku juga nggak tau Sar, pak Jamal nggak bilang apa-apa tadi.”
Dia sempat diam sejenak, tapi kemudian dia tersenyum.
“Kamu kena juga sama dia?” tanyanya, membuatku sangat kaget.
“Eh, maksudmu Sar?”
“2 minggu lalu, waktu kamu keluar kota sama pak Jamal, terjadi sesuatu kan?”
Aku diam tak menjawab. Kenapa Sarah bisa menebak kearah itu? Atau jangan-jangan, Sarah juga...
“Kalau iya, berarti nasib kita sama,” ucapnya perlahan, lalu menatap layar handphonenya.
“Maksudmu Sar?” tanyaku, mencoba memastikan.
“Jawab dulu pertanyaanku, apa benar terjadi sesuatu waktu kamu pergi sama dia?”
“Hmm,,, iya...” jawabku ragu-ragu.
Kulihat Sarah kemudian tersenyum, lalu meletakkan handphonenya dan melihat lagi ke arahku.
“Aku juga. Kamu inget aku pernah nggak masuk selama 2 hari? Itu gara-gara aku mengalami hal yang sama seperti kamu.”
“Maksudmu, kamu juga di...”
“Iya, aku diperkosa sama dia.”
Betapa terkejutnya aku mendengar pengakuan dari Sarah. Kemudian dengan
gamblang dia menceritakan bagaimana pak Jamal memperkosanya. Rupanya
caranya hampir sama dengan yang aku alami, dengan memanfaatkan
preman-preman suruhan pak Jamal. Tapi situasinya berbeda, tidak seperti
aku yang sampai diajak keluar kota. Sarah diperkosa di rumahnya sendiri,
itu karena dia memang tinggal sendiri karena suaminya bekerja dan
tinggal di kota lain, dan hanya pulang seminggu sekali tiap weekend.
“Setelah hari itu, sudah berkali-kali aku terpaksa melayani nafsunya.
Aku nggak punya pilihan lain. Dia punya rekaman persetubuhan kami, yang
akan dia sebar kalau aku tidak menurutinya.”
“Apa kamu nggak bilang sama suamimu Sar?”
“Gila apa? Kalau aku bilang, malah yang ada aku dicerai sama suamiku.
Enggaklah Rum, aku nggak berani bilang. Jangan-jangan, kamu bilang sama
suamimu ya?”
Aku mengangguk.
“Iya, aku terpaksa bilang, karena sehabis aku diperkosa itu, suamiku
bisa melihatku kesakitan. Dia maksa buat cerita, mau nggak mau aku
ceritain sama dia.”
“Terus, apa reaksi suamimu?”
“Ya jelas dia marah. Dia bilang malah mau balas dendam.”
“Oh ya? Mau ngapain dia?”
“Aku juga nggak tau, dia sendiri masih bingung.”
“Hati-hati lho Rum, kamu tau kan pak Jamal punya anak buah preman?”
“Iya, itu juga yang aku bilang ke suamiku, makanya sampai sekarang dia
juga masih bingung. Eh, tapi jangan bilang ini ke siapa-siapa ya Sar,
termasuk pak Jamal sendiri.”
“Iya tenang aja. Kalaupun suami kamu berhasil balas dendam, aku juga
malah senang, kalau bisa lepas dari pak Jamal. Yang penting, hati-hati
aja.”
“Iya Sar, makasih. Hmm, oh iya, selain kamu, dan aku, kamu tau nggak
siapa lagi yang bernasib seperti kita? Pak Jamal pernah bilang ada
beberapa orang kantor yang udah dia jebak.”
“Aku juga nggak tau Rum. Malah dia nggak pernah cerita apa-apa sama aku.
Ini aja aku kaget karena ternyata kamu kena juga sama dia.”
Kami berdua kemudian terdiam. Ternyata benar, selain aku ada orang lain
lagi yang masuk dalam perangkap pak Jamal, dan itu adalah Sarah. Sarah
ini seumuran denganku. Dia belum lama menikah, dan belum punya anak
juga. Berarti belum lama juga dia masuk dalam perangkap pak Jamal. Sarah
ini orangnya cantik, penampilannya lebih modis jika dibandingkan
denganku. Dia termasuk salah satu primadona di kantor ini, meskipun kata
orang, aku lebih cantik darinya. Hanya saja, tubuh Sarah memang
terlihat lebih seksi jika dibandingkan denganku, pantas saja pak Jamal
mengincarnya.
Lamunanku terhenti saat ada panggilan masuk di handphoneku, ternyata
suamiku menelpon dan bilang kalau dia sudah ada di depan kantor
menjemputku. Kebetulan Sarah hari ini tidak membawa kendaraan, karena
itu sekalian ku ajak pulang. Kami memang pernah beberapa kali pulang
bareng, biasanya aku memboncengnya kalau aku bawa motor.
Sampai di rumah, aku tak menceritakan yang tadi kepada mas Krisna.
Sebenarnya aku sudah berniat untuk cerita, tapi setelah kulihat mas
Krisna langsung sibuk dengan pekerjaannya, terpaksa kuurungkan, aku tak
mau menambah beban pikirannya. Aku sendiri masih bingung membayangkan,
apa yang akan terjadi besok.
Keesokan harinya, seperti biasa aku bangun lebih dulu dari mas Krisna.
Setelah mandi aku siapkan sarapan untuknya, baru dia kubangunkan. Dia
masih terlihat mengantuk karena semalam lembur sampai larut. Setelah dia
selesai mandi dan berganti pakaian, kami sarapan bersama.
“Umi, hari ini abi harus berangkat pagi, ada meeting soalnya. Umi bisa berangkat sendiri?”
“Oh iya bi, nggak papa, nanti umi pake motor aja.”
“Maaf ya umi. Nanti juga kayaknya abi bakal telat pulangnya.”
“Iya bi nggak papa. Emang meeting apa sih bi?”
“Hari ini ada audit mi. Pagi ini kami nyiapin dulu, nah nanti siang baru
mulai audit. Yah umi taulah kalau audit kan biasanya sampai malem
gitu.”
“Ooh iya. Kayak bulan-bulan kemarin ya bi?”
“Iya mi.”
Memang setiap 2 bulan sekali, di kantor suamiku diadakan audit. Waktunya
tidak menentu, karena itulah kadang membuat suamiku tiba-tiba harus
lembur menyiapkannya. Dan di hari audit, biasanya memang cukup lama
sehingga suamiku akan pulang malam. Bahkan pernah sekali, jam 12 malam
mas Krisna baru sampai rumah.
Tapi aku bersyukur karena tak perlu lagi mencari alasan untuk berangkat
sendiri. Aku nggak tahu harus beralasan apa, tidak mungkin aku bilang
kalau pak Jamal akan menjemputku, bisa-bisa buyar konsentrasi mas Krisna
di pekerjaanna nanti.
Setelah sarapan, tak menunggu lama mas Krisna langsung berangkat. Aku
membereskan sisa-sisa sarapan kami, kemudian aku berganti pakaian.
Seperti pesan pak Jamal kemarin, aku tetap memakai pakaian dinas,
meskipun hari ini tidak akan masuk kantor. Entah akan dibawa kemana aku
oleh pak Jamal, tapi yang aku tahu aku tak bisa menolaknya. Setelah
berpakaian dan berdandan seadanya, tak lupa kuminum pil KB yang aku
punya, untuk berjaga-jaga.
Sekitar jam 8 lewat kudengar suara mobil berhenti di depan rumahku.
Kuintip dari jendela, itu mobil pak Jamal. Dengan dada berdegup kencang
aku keluar dari rumah, mengunci pintu lalu menghampiri mobil itu.
Langsung saja aku masuk ke mobil, duduk di samping pak Jamal.
“Udah siap?” tanyanya.
“Kita mau kemana pak? Dan mau ngapain?”
“Kita ke rumahku. Kalau tentang mau ngapain, kamu udah tau kan jawabannya?”
“Pak, saya mohon pak, jangan kayak gini. Saya nggak mau menghianati
suami saya lebih jauh lagi. Apa yang kemarin bapak lakuin ke saya itu
nggak cukup?”
“Haha, Arum Arum. Mana pernah cukup menikmati tubuh indahmu itu? Lagian,
sepertinya kamu nggak nolak kan? Buktinya, kamu nggak berangkat ke
kantor, dan tetep pake seragam dinas seperti kataku kemarin? Padahal
kamu pasti sudah tau, apa yang aku mau dari kamu. Atau jangan-jangan,
kamunya juga mau? Kamu kangen ya sama kontolku? Haha.”
“Bukan gitu! Memang saya punya pilihan buat nolak?!” ucapku agak kencang. Aku tak terima dengan kata-katanya.
“Haha, berarti kamu pintar. Kamu tau nggak punya pilihan lain. Ya sudah, kita berangkat saja. Aku udah kangen sama memek kamu.”
Sialan! Pria ini benar-benar menjijikan. Sevulgar itu dia ngomong sama
aku. Memang dia sudah berhasil memperdayaiku, menikmati tubuhku. Tapi
kata-kata itu sungguh terdengar tak sopan di telingaku, benar-benar
melecehkan.
Tapi aku hanya bisa diam saja, tak mau menjawab apapun. Mobilpun
kemudian melaju, dan akhirnya masuk ke sebuah kawasan perumahan elit di
kota ini. Jujur ini pertama kalinya aku ke rumah pak Jamal, aku memang
belum tahu dimana rumahnya. Pernah beberapa bulan lalu pak Jamal
mengadakan acara di rumahnya, tapi aku tak bisa datang karena ada acara
keluarga dengan mas Krisna di luar kota.
Mobil kemudian masuk ke halaman sebuah rumah yang letaknya berada agak
di ujung. Kulihat di halaman rumah itu sudah terparkir sebuah mobil
lagi, dengan plat nomer luar kota. Aku tak tahu itu mobil siapa. Apa
mungkin mobil istrinya pak Jamal? Tapi kalau memang ada istrinnya,
kenapa dia malah mengajakku ke rumahnya? Bukan ke tempat lain? Ataukah
mungkin ini mobil orang lain? Kalau memang ada orang lain, apa maksud
pak Jamal mengajakku kemari? Apa dia berniat untuk menyuruhku melayani
orang lain juga? Iih, membayangkannya saja aku sudah ngeri. Semoga saja
tidak. Semoga saja itu adalah mobil pak Jamal sendiri.
“Ayo sayang, turun. Kita udah ditunggu.”
Deg. Sudah ditunggu? Jadi benar ada orang lain di rumah ini? Tapi siapa? Apa maksudnya ini?
“Maksud bapak apa? Siapa yang nunggu? Apa yang pak Jamal mau sebenarnya? Jangan macam-macam pak, saya nggak mau!”
“Udahlah, kamu itu udah jadi budakku sekarang. Yang bisa kamu lakuin
hanya menuruti apa yang menjadi perintahku, itu saja. Udah ayo cepet!”
Pak Jamal lalu menarik tanganku. Mau tak mau aku terpaksa mengikutinya.
Aku bertanya-tanya, siapakah yang sedang menunggu kami? Dan apa yang
yang akan dilakukan oleh pak Jamal kepadaku? Begitu pintu dibuka, aku
terkejut melihat siapa yang sedang duduk di ruang tamu. Aku menatap tak
percaya ke arah ruang tamu dan pak Jamal bergantian. Apa maksudnya ini?
Aku benar-benar tidak menyangka hal ini. Begitu pintu rumah pak Jamal
terbuka, kulihat di ruang tamu duduk seorang pria yang pernah bertemu
denganku beberapa minggu yang lalu. Pria itu tak lain adalah pak Bonar,
yang waktu seminar sempat mendekatiku tapi diusir oleh pak Jamal yang
waktu itu mengaku jadi suamiku.
Kulihat pak Bonar dengan senyum menjijikkan di wajahnya menyambut
kedatanganku. Aku menoleh ke arah pak Jamal yang berdiri di sampingku,
meminta penjelasan untuk ini semua, tapi dia hanya tersenyum dan
mendorongku untuk melangkah masuk. Setelah itu dia kembali menutup pintu
rumahnya. Saat ini aku berada di ruang tamu rumah ini bersama dengan 2
orang pria. Perasaanku jadi semakin takut. Aku membayangkan apa yang
akan mereka lakukan padaku.
Aku dipaksa duduk oleh pak Jamal di salah satu kursi di ruang tamu itu.
Dia kemudian masuk ke dalam, membiarkanku hanya berdua saja dengan
Bonar.
“Apa kabar Arum sayang?”
“Baik,” jawabku singkat. Aku masih kaget dengan adanya pak Bonar di rumah ini.
“Kamu nggak usah tegang gitu, biar kontolku aja yang tegang, haha.”
Aku tak membalas ucapannya. Benar-benar menjijikkan. Sesantai itu dia
mengucapkan kata-kata kotor seperti itu kepadaku. Tak lama kemudian pak
Jamal kembali lagi ke ruang tamu ini, dia sudah berganti pakaian, hanya
memakai kaos oblong dan celana pendek saja, sama seperti pak Bonar.
“Mal, kayaknya piaraanmu yang satu ini belum jinak ya?”
“Haha maklumlah Nar, baru hari itu aku entotin, belum nambah lagi. Makanya hari ini kita bikin dia teler, biar jinak, haha.”
Aku benar-benar risih dengan omongan mereka berdua. Piaraan? Emang
mereka pikir aku ini hewan apa? Yang ada mereka berdua itu yang hewan.
Aku hanyalah korban yang dipaksa untuk melayani nafsu hewani pak Jamal,
dan mungkin sebentar lagi, pak Bonar juga.
Tapi aku masih bingung, kenapa mereka bisa begitu dekat? Bukankah waktu
itu pak Jamal terlihat tak suka saat pak Bonar mendekatiku? Atau
jangan-jangan, itu hanya skenario mereka berdua saja?
“Pak Jamal, apa maksud semua ini? Dan kenapa pak Bonar ada disini?”
“Kamu belum cerita Mal?” sahut pak Bonar.
“Belum, haha. Gini Arum sayang, Bonar ini sebenarnya adalah sahabat
dekatku. Kalau kamu mikir dulu aku jauhin kamu dari dia, itu hanyalah
sandiwara kami saja. Sama seperti begal yang menghadangmu waktu itu.
Semua ini sudah aku atur, cuma buat dapetin kamu sayang. Dan sekarang,
tiba waktunya buat kamu ngelayanin kami berdua, bersamaan.”
Benar rupanya. Semua ini adalah akal-akalan mereka berdua. Aku
benar-benar nggak menyangka dengan semua ini. Mereka sepertinya sudah
sangat ahli dalam hal ini, dan aku percaya bukan sekali ini saja mereka
melakukannya.
“Itu benar Arum. Aku dan Jamal adalah sahabat, kami punya hobi yang
sama, yaitu menikmati tubuh wanita-wanita cantik kayak kamu. Kami juga
sering bertukar wanita, seperti sekarang, kamu juga harus melayaniku.”
Aku hanya bisa diam, lidahku kelu. Tadinya aku pikir, aku hanya harus
terus memenuhi nafsu bejat pak Jamal saja, ternyata dugaanku keliru.
Selama ini aku selalu menjaga diriku, selalu menjaga tubuhku agar hanya
suamiku saja yang bisa menyentuhnya. Tapi setelah kemarin dipaksa pak
Jamal, sekarang aku harus melayani orang lain lagi. Dan entah apalagi
nantinya, apakah ada orang lain lagi yang harus aku layani?
“Mal, kamu yakin si Arum ini sanggup ngeladenin kita berdua? Kamu bilang kemarin sama kamu aja dia udah klenger?”
“Haha tenang aja Nar. Kalau dia nggak kuat, aku panggilin lagi piaraanku yang lain. Yang penting hari ini kita bisa puas, haha.”
Sialan benar kedua orang ini. Mereka benar-benar menganggap aku, dan
wanita lain sebagai piaraan mereka. Aku benar-benar marah dengan keadaan
ini, tapi aku bisa apa? Lari dan menghindar? Sekarang saja sudah
mustahil untuk bisa melawan mereka berdua. Belum lagi kalau pak Jamal
benar-benar menyebarkan video waktu itu, mau ditaruh dimana mukaku?
Bagaimana juga perasaan mas Krisna kalau tahu hal ini? Ah mas Krisna,
maafin aku mas, sekali lagi harus menghianatimu, dan sepertinya aku
nggak bisa ceritain ini semua ke kamu.
“Ya udahlah, aku udah nggak tahan ini. Yuk sayang kita ke dalam.”
Pak Bonar kemudian berdiri menghampiriku. Dia menarik tanganku dan
mengajakku ke bagian dalam rumah ini. Akupun hanya bisa menurut tanpa
membantah.
Pak Bonar ini, sepertinya seumuran dengan pak Jamal. Badannya juga
tinggi besar seperti pak Jamal, tapi kulihat perutnya sedikit tambun,
lebih dari pak Jamal. Yang terbayangkan olehku adalah, apakah kemaluan
lelaki ini juga sebesar punya pak Jamal? Kalau iya, seperti apa rasa
sakit yang akan aku terima nantinya?
Sampai di dalam, tepatnya di ruang tengah, pak Bonar duduk di sebuah
kursi, sedangkan aku masih berdiri di depannya. Tak lama kemudian pak
Jamal menyusul kami. Diapun duduk di samping pak Bonar. Aku tak tahu apa
yang harus dilakukan, sehingga diam saja. Kedua pria jahanam itu hanya
tersenyum melihatku. Tiba-tiba, pak Bonar menarik turun celananya hingga
nampaklah batang kemaluannya, yang meskipun masih tertidur, tapi sudah
terlihat besar. Aku bergidik ngeri melihatnya.
“Sini sayang, isepin punyaku,” perintahnya dengan santai.
Aku masih tak bergerak. Masih diam saja di tempat. Melihatku hanya diam,
pak Jamal berdiri dan melangkah ke belakangku. Tiba-tiba dia
mendorongku hingga terjatuh di tubuh pak Bonar.
“Hei, dia itu sama seperti aku, tuanmu. Apa yang dia perintah, kamu harus turutin, ngerti!”
Pak Jamal membentakku dengan kasar, sedangkan pak Bonar hanya tersenyum saja.
“Sudahlah Jamal, tak perlu kasar pada wanita secantik Arum. Nah ayo
sayang, buruan isepin batangku, bikin dia keras, kamu suka kan yang
keras-keras?”
Ucapan dan senyuman pak Bonar benar-benar menjijikkan buatku, tapi aku
tak menjawab apapun. Aku berusaha bangkit, tapi pak Bonar menahan
tubuhku.
“Kalau kamu nggak mau bersikap baik, aku bisa lebih kasar daripada Jamal,” bisiknya di telingaku.
Dia kemudian mendorong tubuhku hingga bersimpuh di depannya, di depan
kedua kakinya yang sudah terbuka lebar. Aku masih diam, aku benar-benar
tak rela melakukan hal ini.
“Hmmmpphh...”
Tiba-tiba saja pak Jamal mendorong kepalaku dari belakang, hingga wajahku menyentuh langsung penis pak Bonar.
“Cepat lakuin atau kamu pengen dikasarin?”
Bentakkan pak Jamal kembali ku dengar, dan akhirnya aku hanya bisa
menangis pasrah. Perlahan kugerakkan tanganku, menyentuh batang penis
yang masih terkulai lemas itu. Tanganku benar-benar bergetar saat
menyentuhnya. Kulirik pak Bonar, dia tersenyum puas mengetahui aku sudah
pasrah dan menyerah.
Perlahan kugerakkan tanganku, naik turun mengurut penis itu hingga
perlahan-lahan mulai membesar. Penis itu akhirnya berdiri tegak meskipun
aku tahu belum maksimal. Aku tahu tadi diperintah untuk mengulumnya,
tapi aku belum mau, jadi aku masih terus mengocoknya saja, dan kocokanku
semakin kupercepat.
“Arum, apa aku tadi nyuruh kamu ngocokin doang? Ayo sayang, jilatin, masukin ke mulut kamu yang seksi itu,” perintah pak Bonar.
Dengan amat ragu, mulai kudekatkan kepalaku menuju ke penis besar itu.
Batinku berperang, haruskah aku melakukan ini lagi? Sementara suamiku
saja tak pernah mendapat servis seperti ini dariku? Hanya pak Jamal yang
pernah merasakan mulutku, dan kini, pak Bonarlah yang akan
merasakannya.
Saking tak sabarnya pak Bonar meraih kepalaku dan menariknya, membuat
wajahku kembali menyentuh penis itu. Aku memejamkan mataku, dan air
mataku tak bisa kubendung lagi.
“Ayo cepet, atau kamu mau dikasarin aja?” ucapan pak Bonar sebenarnya
terdengar santai dan lembut, tapi buatku itu adalah perintah tegas yang
tak bisa kutolak.
Akhirnya, dengan sangat terpaksa aku mendekatkan bibirku di penis pak
Bonar. Kucium kepala jamur yang besar itu. Kulirik lagi ke arah pak
Bonar, dia menjulurkan lidahnya, memintaku untuk menjilati penisnya.
Aku menarik nafas dalam-dalam sambil terpejam, memantabkan diriku untuk
melakukan ini. Maafkan aku mas Krisna, aku tidak pernah menginginkan hal
ini, tapi aku tak punya pilihan untuk menolak. Sekali lagi, maafkan aku
mas.
Selanjutnya yang terjadi adalah, lidahku mulai menyapu permukaan kulit
penis pak Bonar. Dari ujung ke pangkal, kujilati semuanya. Setelah itu
aku dengan susah payah memasukkan penis besar itu di mulutku. Kuhisap
dan kukulum kejantanan pak Bonar, sesekali lidahku bermain, menjilati
kepala penis pak Bonar yang ada di dalam mulutku.
“Uughh, luar biasa, isepanmu lumayan juga untuk seorang pemula, haha. Ayo terus sayang, puasin aku, aahhh..”
Aku tak peduli dengan apa yang dia katakan. Bagiku, aku hanya melakukan
semua ini karena terpaksa, dan juga agar semua ini cepat berakhir.
Untuk beberapa saat aku terus mengulum penis pak Bonar. Desahannya terus
terdengar di telingaku. Lama kelamaan aku bisa merasakan penis yang ada
di dalam mulutku ini semakin mengeras, dan aku semakin kesulitan untuk
mengulumnya. Tapi aku tak bisa melepaskannya karena tangan pak Bonar
terus menahanku, bahkan kadang menggerakkannya kalau kepalaku berhenti.
Sekarang aku merasakan kedua tangan pak Bonar memegang kepalaku. Bukan
hanya memegang, tapi dia memaksaku untuk menggerakkan kepalaku lebih
cepat dan lebih dalam lagi. Ujung kepala penisnya beberapa kali
menyentuh kerongkonganku membuatku tersedak dan ingin muntah. Aku
berusaha meronta, apalagi saat kurasakan penis itu mulai berkedut. Tapi
tenagaku jelas kalah jauh dibanding pak Bonar. Semakin sering aku
tersedak, dan hampir saja aku muntah karenanya. Aku bahkan bisa
merasakan air liurku keluar dari sela-sela bibirku saat pak Bonar
menarik kepalaku menjauh, sebelum kemudian mendorong lagi hingga penis
itu tertelan olehku.
“Aahh mulutmu enak banget sayang, aahh aku mau keluaarr..”
Aku menjadi panik. Aku memang pernah dipaksa oleh pak Jamal untuk
menelan spermanya, dan aku sama sekali tak menyukai rasanya hingga
kumuntahkan saat itu, meskipun sebagian terpaksa tertelan. Dan kali ini,
pak Bonar sepertinya akan melakukan hal yang sama. Aku semakin
berontak, tapi tetap saja tak bisa lepas, hingga saat akhirnya dia
menekan kepalaku keras sekali hingga mentok.
“Aaaaaahhhhh...”
“Hooorrrkkk...”
Lenguhan panjang dari pak Bonar, dibarengi dengan aku yang hampir
muntah, karena saat itu penisnya mengeluarkan banyak sekali cairan
kental yang buatku sangat menjijikkan. Beberapa kali penis pak Bonar
menyemprotkan spermanya di dalam mulutku. Aku mencoba menahan untuk
tidak menelannya, tapi kepalaku terus ditahan hingga aku hampir
kehabisan nafas. Mau tak mau, akupun menelan semua cairan yang ada di
dalam mulutku itu. Rasanya benar-benar menjijikkan.
“Uhuuukk uhuuukk...”
Aku langsung terbatuk-batuk saat kepalaku dilepas oleh pak Bonar.
Sisa-sisa sperma yang tak sampai tertelan langsung kuludahkan keluar.
Aku terus terisak diperlakukan seperti itu, sedangkan kedua lelaki
biadab itu malah tertawa penuh kepuasan.
Tapi penderitaanku belumlah selesai. Baru saja bisa menarik nafas
panjang, tubuhku langsung ditarik oleh pak Jamal, yang bahkan sudah
telanjang bulat. Dia juga memintaku untuk mengoral penisnya. Aku sempat
ingin melawan tapi belum apa-apa dia sudah memaksakan penisnya untuk
masuk ke dalam mulutku.
Pak Jamal menahan kepalaku, hingga aku tak bisa bergerak. Dia mendiamkan
saja penisnya yang belum tegang maksimal itu di dalam mulutku. Waktu
itu kugunakan untuk sedikit mengambil nafas lagi. Setelah itu, tanpa
ampun penis pak Jamal menghajar mulutku. Aku tak diberi kesempatan untuk
menghela nafas lagi, dia dengan kasar menyetubuhi mulutku. Aku hanya
bisa pasrah, dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipiku.
Dan saat itu tubuhku mulai dijamah dari belakang. Itu pasti pak Bonar.
Tangannya dengan nakal meraba kedua payudaraku yang masih tertutup rapi
oleh pakaianku. Satu persatu kancing kemejaku dibuka dan disibakkan
kesamping tanpa melepasnya. BH yang menutupi kedua payudaraku diangkat
ke atas, membuat kedua bukit kembarku itu sekarang bebas dijamahnya.
“Wah tubuh kamu bagus juga Rum, dadamu kenyal, montok, haha. Bener-bener
nggak salah milih mangsa kamu Mal,” ucap pak Bonar terdengar di
telingaku.
“Haha, tentu saja. Mana pernah mangsaku mengecewakan, betul kan?”
“Baguslah, kita bisa nikmati wanita ini seharian sampai puas, haha.”
Aku hanya bisa menangis mendengar obrolan mereka disela-sela menggarap
tubuhku. Tangan pak Bonar terus meraba dan meremas buah dadaku. Puting
susuku juga tak lepas dari jamahannya. Dipelintir lembut, kadang ditarik
kasar, lalu payudaraku diremas juga dengan kasar. Aku yang kesakitan
tak bisa apa-apa karena sekarang masih terus dipaksa mengoral penis pak
Jamal.
Tiba-tiba kurasakan tubuhku digerakkan oleh pak Bonar. Dia memaksaku
berposisi menungging. Aku kini bertumpu pada kedua tangan dan lututku,
sambil kepalaku yang tertahan terus digerakkan maju mundur oleh pak
Jamal. Dalam posisi itu, bisa kurasakan rok panjangku disingkap ke atas
oleh pak Bonar.
Plak... Plak... Plak...
“Eehhhmmpp...”
Beberapa kali pantatku dipukuli oleh pak Bonar. Teriakanku tertahan oleh
penis pak Jamal yang masih bergerak maju mundur di dalam mulutku. Pak
Bonar sepertinya suka sekali dengan pantatku dan masih terus
menamparinya. Aku sampai merasakan kedua bongkah pantatku kini panas,
mungkin sudah memerah.
Setelah beberapa kali menampari pantatku, kurasakan celana dalamku
ditarik turun oleh pak Bonar. Aku tak bisa apa-apa untuk melawan, hanya
air mataku yang semakin deras tak terbendung. Aku tak pernah
membayangkan akan mendapat perlakuan seperti ini. Apa yang terjadi
antara aku dan pak Jamal beberapa minggu yang lalu, itu sudah kuanggap
yang paling kasar yang pernah kualami, tapi kali ini, aku mendapatkan
perlakuan yang lebih kasar dan lebih hina lagi, tanpa sedikitpun aku
bisa melawan.
“Bener-bener sempurna. Untuk kali ini aku ngaku kalah Mal. Aku harus bisa cari mangsa yang melebihi si Arum ini.”
“Haha, gimana? Kualitas wahid kan?”
“Iya bener, ini top, kualitas wahid. Kalau aja aku tinggal di kota ini,
pasti udah tiap hari aku entotin memek sempitnya si Arum ini, haha.”
Tak lama kemudian kurasakan daerah vitalku mulai diraba oleh pak Bonar.
Jari-jarinya digesekan ke bibir vaginaku, hingga membuatku kegelian dan
beberapa kali menggelinjang. Sesekali dia juga menusukkan jarinya ke
dalam vaginaku, dan itu semakin membuatku menggelinjang. Sampai akhirnya
dia menemukan sebuah biji di daerah bibir vaginaku, dia gesek-gesek
dengan jarinya, membuat tubuhku makin bergerak tak karuan.
Biji kecil klitoris itu adalah kelemahanku. Aku tak pernah bisa menahan
jika biji itu sudah dirangsang. Mas Krisna selalu bisa membangkitkan
gairahku dengan merangsang daerah itu. Dan kini, orang lain yang
melakukannya.
Pak Bonar lalu menarik jarinya dari daerah vitalku, tapi tak lama
kemudian kurasakan sapuan lidahnya di sekujur bibir vaginaku. Aku yang
terkejut langsung berusaha meronta, tapi lagi-lagi karena masih
dipegangi oleh pak Jamal, aku tak bisa apa-apa.
Jilatan lidah pak Bonar sampai juga di klitorisku. Dijilat dan
dihisapinya biji itu hingga membuat tubuhku benar-benar geli. Disaat
yang bersamaan, dia masukkan jarinya menusuk lubang vaginaku.
“Eeeemmppphhh...”
Crok... Crok... Crok...
Desahanku tertahan lagi. Suara becek rajahan jari pak Bonar di lubang
vaginaku bahkan sampai terdengar olehku. Vaginaku sudah basah. Bukan
karena aku menginginkannya. Tapi aku hanyalah wanita biasa, yang punya
kelemahan. Dan sekarang pak Bonar sedang mengeksplor kelemahanku itu.
Cukup lama pak Bonar melakukan itu, hingga membuatku semakin tak tahan.
Akhirnya aku melampiaskan semuanya dengan menghisap lebih dalam dan
keras penis pak Jamal yang masih ada di mulutku. Aku dipaksa menyerah
kalah oleh kedua lelaki itu, hingga akhirnya sebuah desahan panjang yang
tertahan mewarnai orgasme pertamaku hari itu. Tubuhku menegang. Mataku
terpejam dan mulutku masih menghisap kuat penis pak Jamal.
“Uuugghh isepanmu mantep banget Rum. Punya bakat merek juga kamu ternyata, haha.”
Aku tak peduli dengan kata-kata pak Jamal. Aku hanya melampiaskan apa
yang aku rasakan, itupun karena dipaksa oleh mereka. Aku mau menarik
kepalaku untuk mengambil nafas dulu, tapi pak Jamal masih saja menahan
kepalaku. Dia yang sedari tadi dalam posisi berdiri, malah menarikku
saat dia berjalan mundur, hingga membuatku merangkak. Aku benar-benar
merasa hina, merangkak ke depan dengan sebuah penis masih berada di
dalam mulutku.
Akhirnya pak Jamal duduk di kursi, dan aku masih tetap tak
dilepaskannya. Posisiku masih menungging. Lalu aku dipaksa lagi oleh pak
Jamal menaik turunkan kepalaku, memberikan servis pada penisnya. Aku
sudah pasrah, hanya menurut saja.
Saat itulah kurasakan pak Bonar kembali memegang kedua bongkahan
pantatku. Kemudian aku merasakan sesuatu menyentuh bibir vaginaku yang
masih basah. Aku tahu itu penis pak Bonar. Sebentar lagi dia akan
memasukiku. Sebentar lagi dia akan semakin menghancurkan kehormatanku
sebagai istri mas Krisna. Dan aku, tak bisa berbuat apa-apa untuk
menghentikannya.
“Hmmmpphhh...”
Aku hanya bisa mendesah tertahan saat kepala penis yang cukup besar itu
memaksa menguak bibir vaginaku. Perlahan-lahan bisa kurasakan penis itu
mulai masuk. Tidak dalam, mungkin hanya kepalanya saja. Lalu dia
menariknya lagi sedikit, dan mendorongnya sedikit. Mungkin dia sedang
membuka jalan agar penisnya bisa masuk semua di dalam vaginaku.
“Hhmm aaarrrkkkk...”
Aku menjerit histeris saat tiba-tiba dengan kasar dia menghentakkan
penisnya ke dalam vaginaku. Kepalaku yang tak lagi dipegang oleh pak
Jamal, atau mungkin memang dia sengaja melepaskannya, langsung terangkat
hingga mulutku terbebas dari penisnya, dan suaraku bisa keluar dengan
nyaringnya.
“Paaaakkk aaaahhhkkk pelaaannn...”
Tapi pak Bonar tak mendengarkan permintaanku. Dia terus saja
menyetubuhiku dengan kasar, membuat tubuhku tersentak-sentak kedepan.
“Oouhh bener-bener masih sempit Mal, padahal udah kamu entotin dia, oohh enaak bangeett..”
“Haha, emang udah aku entot. Tapi sejak pulang dari sana belum lagi kusentuh dia, pasti udah mulai sempit lagi kan, haha.”
“Bener-bener Mal, ini enaak banget.. aaahh aaahhh...”
“Aarkk paaakk aahhh pelaan pelaaannn...”
Kembali pintaku tak didengarnya. Dia masih memperlakukanku dengan kasar.
Bahkan beberapa kali tangannya menampar-nampar pantatku lagi. Dia juga
meraih payudaraku yang menggantung dan meremasnya dengan kasar. Aku
benar-benar merasa kesakitan saat ini. Sementara pak Jamal yang berada
di depanku malah tertawa puas melihatku diperkosa dengan kasar begini.
Tak mau hanya diam, pak Jamal kemudian meraih kepalaku lagi, lalu
memaksaku untuk mengoral lagi penisnya. Aku hanya bisa menurut. Rasa
sakit yang kurasakan ini kulampiaskan dengan menghisap penis pak Jamal
kuat-kuat. Tanpa dipegangi lagi kepalaku naik turun dengan sendirinya.
Bukan aku ingin memberikan kepuasan pada pak Jamal, hanya saja ini
kulakukan agar aku bisa sedikit mengurangi rasa sakitku.
Penis pak Bonar yang besar terus merojok lubang kemaluanku. Kurasa
besarnya hampir sama dengan milik pak Jamal, begitu juga dengan
panjangnya. Aku benar-benar tersiksa dengan ukuran penis itu.
Cukup lama pak Bonar memperkosaku dari belakang, dan aku mulai merasakan
kalau rasa sakitku mulai berkurang. Tapi tetap saja aku tidak ingin
menikmati persetubuhan ini, meskipun vaginaku mulai bereaksi sebaliknya.
Vaginaku semakin banjir, aku bisa merasakan itu. Tapi ini bukan karena
menikmati, ini hanya reaksi alami vaginaku untuk memberikan pelumas,
agar aku tak lagi kesakitan. Ya, pasti begitu, aku yakin itu.
“Aaahh aaahh, Mal, kayaknya ni cewek udah mulai nikmatin kontolku. Memeknya udah makin basah.”
“Haha benar, cewek mana yang tahan dientot, iya kan Arum sayang?”
Aku yang masih terus mengulum penis pak Jamal menggelengkan kepalaku,
menolak untuk membenarkan semua itu. Tidak! Aku tidak menikmatinya.
Tidak akan pernah!
Tapi kembali, tubuhku berkhianat. Semakin lama kurasakan sakit di
vaginaku mulai menghilang, berganti dengan, geli, bercampur nikmat. Ah
tidak, ini bukan nikmat, tapi ini... Aahh tidak, maafkan aku mas
Krisna..
Aku hanya bisa terus menangis. Aku sekuat tenaga menjaga agar tak
menikmati semua ini. Tapi apalah dayaku, aku hanya perempuan biasa.
Diperlakukan seperti ini, lama-lama pertahananku jebol juga. Vaginaku
mulai berkedut, dan aku yakin pak Bonar bisa merasakan itu. Terbukti,
dia semakin mempercepat goyangannya, yang membuatku tak mampu lagi
bertahan, hingga melepaskan penis pak Jamal dari mulutku.
“Aaah paaak.. udaaahh.. aahh pelaan.. aku... aahh aku mau.... aaahhhh...”
Sebuah desahan panjang akhirnya tak bisa kutahan saat kurasakan
gelombang dahsyat menerpaku. Aku kembali orgasme, saat disetubuhi oleh
pria lain yang bukan suamiku. Tubuhku beberapa kali mengejang. Mataku
tertutup dan mulutku terbuka lebar. Nafasku sudah tak beraturan. Aku
kalah, benar-benar kalah.
“Haha gimana Arum sayang? Nikmat kan dientot sama Bonar? Ini belum seberapa sayang, nanti ada yang lebih nikmat lagi.”
Kembali aku tak menjawab ucapan pak Jamal. Aku masih terdiam, menikmati
sisa-sisa orgasmeku. Iya, aku menikmatinya pada akhirnya. Entahlah,
hatiku tak ingin mengakuinya, tapi tubuhku berkata lain.
Setelah membiarkanku menikmati orgasmeku, pak Bonar menarik lepas
penisnya, meninggalkan kekosongan di dalam vaginaku. Tapi itu tak
bertahan lama. Tubuhku ditarik oleh pak Jamal hingga kini posisiku
mendudukinya. Dia melepaskan kemeja, bh, rok panjang dan celana dalamku.
Aku sudah telanjang kini, hanya menyisakan jilbab yang masih terpasang
di kepalaku, yang entah sudah seperti apa kondisinya sekarang. Aku tahu
pak Jamal tak akan melepaskannya sekarang. Dia bilang, lebih bernafsu
menyetubuhku yang memakai jilbab. Aku juga sudah tidak punya tenaga
lagi, karena itu aku membiarkannya saja.
Setelah aku telanjang, pak Jamal memposisikan penisnya ke bibir
vaginaku. Karena memang sudah basah, dan sudah terbuka oleh penis pak
Bonar tadi, kini penis pak Jamal dengan cukup mudah masuk ke dalam
vaginaku.
“Uuugghh udah paaak, Arum capeekk...”
“Capek? Belum sayang, kamu belum boleh capek. Ini masih pagi, kita akan kayak gini terus sampai sore, haha.”
Sampai sore? Gila! Melayani kedua orang ini sampai sore? Mau dibikin
jadi apa nanti aku? Baru sekali ini saja aku sudah secapek ini, apalagi
sampai sore?
“Ayo, gerakin pantat kamu sayang, naik turun, kayak yang waktu itu,” perintah pak Jamal.
Aku tak punya pilihan lain kecuali menurutinya. Aku tahu, menolakpun
percuma, yang ada malah dia akan mengasariku lagi. Aku tak mau dikasari,
tak mau disakiti lagi. Akhirnya dengan sangat terpaksa aku gerakkan
tubuhku naik turun. Aku tumpukan kedua tanganku di pundak pak Jamal. Dia
sendiri kedua tangannya terus bermain di kedua buah dadaku, yang sudah
terbuka karena jilbabku disingkap ke belakang.
Saat itu tiba-tiba kurasakan ada yang menyentuh pantatku. Aku menoleh ke
belakang. Pak Bonar, tampak tersenyum melihatku. Aku lirik ke bawah.
Astaga, aku lupa, dia kan belum orgasme. Dan sekarang tangannya meraba
pantatku, jarinya mengarah ke lubang belakangku. Apa yang dia mau?
Jangan-jangan....
“Kita main sama-sama yang sayang, hehe.”
“Paak jangan disitu pak, saya nggak mau..”
Aku hendak menarik tubuhku menjauh, tapi malah dipegangi pak Jamal dari
bawah. Dia memeluk tubuhku erat sekali, membuatku menghentikan gerakkan
pantatku. Saat itu pak Bonar mengarahkan kepala penisnya ke lubangku
yang satunya. Aku benar-benar takut. Meskipun lubang itu sudah
diperawani oleh pak Jamal, tapi melakukan ini bersamaan, diperkosa depan
belakang, aku belum pernah melakukannya.
Bayang-bayang rasa sakit yang teramat sangat membuatku mencoba meronta
dengan keras. Tapi tak menghasilkan apa-apa karena saking kuatnya pak
Jamal memelukku. Pak Bonar sendiri mulai meludahi tangannya sendiri,
lalu diusapkan ke lubang belakangku. Jarinya bahkan dipaksa masuk, untuk
membuatnya lebar, membuka jalan.
“Paak jangan disitu, jangan gini paak.. Arum nggak mau...”
Tapi kedua lelaki itu tak menggubrisku. Yang ada, sekarang malah 2 jari pak Bonar dimasukkan untuk mengobok-obok lubang anusku.
“Aaahh jangan paak, sakiiiit...”
“Udah sayang, dinikmati aja..”
“Nggak, nggak mau, sakiiiiitt...”
Pak Bonar menarik kedua jarinya. Tapi aku bukannya lega, tapi justru
semakin takut. Kulihat lagi ke belakang, pak Bonar kembali mendekatkan
kepala penisnya di bibir anusku. Dia mulai memaksanya untuk masuk.
Sementara aku menggigit bibirku sendiri, menahan rasa sakit yang mulai
kurasakan.
“Aaarrkkk udaaahh paaak, sakiiiiittt...”
Kepala penis itu sudah masuk, dan sakitnya luar biasa. Kembali aku
mencoba meronta, tapi tubuhku dipegangi dengan sangat kuat, terlalu
kuat.
Blesss...
“Aaaaaaaarrrrkkkkkhhhh...”
Aku menjerit sekeras-kerasnya saat tiba-tiba pak Bonar menghentak
penisnya di lubang anusku yang sempit dan kering. Pinggangnya sampai
membentur bongkahan pantatku, artinya penisnya masuk semuanya. Ini
benar-benar sakit, lebih sakit daripada saat lubang itu diperawani oleh
pak Jamal.
“Anjiiiing, sempiit bangeeet.. oouuhhh...”
Kedua lelaki biadab itu masih diam tak bergerak. Mereka seperti sedang
menikmati jepitan kedua lubangku. Pak Bonar pastinya menikmati betapa
sempitnya lubang anusku. Sedangkan pak Jamal juga merasakan lubang
vaginaku semakin menyempit karena aku yang kesakitan.
Aku sendiri, merasakan tubuhku terbelah. Entah lecet atau seperti apa di
dalam, tapi yang pasti ini sakit sekali. Pandanganku sampai
berkunang-kunang. Ingin rasanya aku pingsan saja, agar tak lagi
merasakan sakit ini.
Setelah beberapa saat, mungkin hampir semenit lamanya terdiam, pak Bonar
mulai bergerak maju mundur. Liang anusku yang masih kering itu
membuatku kembali merasakan sakit yang teramat. Tapi sebelum aku sempat
berteriak lagi, pak Jamal sudah langsung menyambar bibirku. Dia
menciumiku dengan buas. Akupun membalasnya tak kalah buas. Sekali lagi,
bukan aku ingin melayani atau memuaskannya, hanya sebagai pelampiasan
dari rasa sakitku.
Pak Jamal sendiri kemudian mulai bergerak dari bawah, tapi dia bergerak
lebih pelan daripada pak Bonar. Kedua tangan pak Jamal juga mulai
meremas payudaraku dengan lembut, sambil terus menciumi bibirku. Lidah
kami bertemu, saling mengait satu sama lain. Sedangkan pak Bonar yang
terus bergerak memperkosa liang anusku, tangannya mulai meremas pantatku
yang montok. Tidak lagi dia menamparnya, hanya meremasi saja.
Cukup lama kami dalam posisi ini. Meskipun sudah agak berkurang, tapi
tetap saja masih terasa sakit di lubang anusku. Aku sudah tak mencium
pak Jamal lagi. Aku merebahkan kepalaku di samping kepalanya. Bibirku
terus mengeluarkan rintihan, yang mungkin bagi pak Jamal malah terdengar
sebagai alunan yang indah.
Sampai akhirnya aku merasakan gerakan pak Bonar dan pak Jamal mulai
semakin cepat. Keduanya juga mulai melenguh, tanda begitu menikmati
kedua lubangku itu. Aku sendiri masih terus merintih dari tadi. Campuran
antara kenikmatan yang diberikan pak Jamal di lubang vaginaku, dan rasa
sakit yang masih terasa di lubang anusku.
Aku tahu mereka sudah akan orgasme, dan aku tahu mereka tak akan
mencabut penisnya dari kedua lubangku. Beruntung tadi pagi aku sudah
persiapan, sudah meminum pil KB yang diberikan oleh temanku. Akupun
membantu mereka dengan menggerakkan otot-otot di dinding kedua lubangku
itu untuk meremas penis mereka. Aku ingin semua ini cepat selesai, agar
segera selesai juga rasa sakitku.
“Aaahh gilaa, aku nggak tahan lagi, lubang wanita ini enak bangeett...”
“Aku juga Nar, memeknya masih enak banget, aku nggak tahan...”
Kudengar keduanya mulai meracau. Aku sendiri, jujur saja aku juga sudah
mulai dekat dengan orgasmeku. Titik-titik tertentu di dalam vaginaku
berkali-kali tersentuh oleh penis pak Jamal, dan itu membuat
pertahananku rasanya tak sanggup bertahan lebih lama lagi. Meskipun
anusku masih terasa sakit, tapi tak bisa kupungkiri, aku juga merasakan
nikmat.
Gerakan mereka berdua semakin cepat dan cenderung kasar. Aku semakin
mengencangkan otot di kedua lubangku, meskipun akibatnya kembali aku
harus menerima rasa sakit di anusku. Pak Jamal kemudian meremas kedua
buah dadaku dengan kasar, begitu juga dengan pak Bonar di kedua
pantatku.
“Aku keluaaaaaaarrrr... Aaaaahhhhh...”
“Aaaaaahhhhhh...”
Desahan dan rintihan kami bertiga terdengar bersamaan. Bersama dengan
itu aku merasakan kedua lubangku disiram oleh cairan hangat mereka. Aku
sendiri tak mampu bertahan, akupun orgasme bersama dengan kedua
pemerkosaku itu.
Entah berapa banyak cairan sperma yang masuk ke dalam rahim dan anusku,
yang kurasakan hanya hangat saja di dalam sana. Tubuhku yang sempat
menegang beberapa kali, langsung ambruk menimpa tubuh pak Jamal.
Nafas kami bertiga terengah-engah, terutama aku, yang digarap oleh kedua
lelaki ini. Mereka juga tak langsung mencabut penisnya, masih
mendiamkan dulu untuk beberapa saat. Baru kemudian pak Bonar menarik
lepas penisnya, disusul pak Jamal tak lama kemudian. Aku merasakan kedua
lubangku terbuka lebar, dan cairan sperma mereka cukup banyak mengalir
keluar.
Pak Jamal mengangkat tubuhku dan menidurkan di sampingnya. Penampilanku
sudah entah seperti apa, aku sudah tak peduli lagi. Aku hanya memejamkan
mataku, dan air mataku juga masih mengalir membasahi pipiku. Tubuhku
rasanya remuk, lemas, hingga aku tak sanggup bergerak lagi.
Tapi itu hanya awal dari penderitaanku hari itu. Setelah membiarkanku
beristirahat selama beberapa menit, mereka kemudian menggarapku lagi
habis-habisan. Kadang bergantian, kadang aku dihajar depan belakang,
hingga rasanya aku sudah mau pingsan saja. Mereka menyemprotkan
spermanya ke sekujur tubuhku, hingga jilbabku yang belum dilepas ikut
basah juga oleh sperma mereka.
“Sudaaah paak, Arum udah nggak sanggup lagii..”
Aku hanya bisa merintih saat kulihat pak Bonar kembali menjamah tubuhku.
Entah bagaimana lelaki ini masih begitu kuat. Kulihat penisnya juga
sudah tegang lagi. Padahal dia sudah berkali-kali menyetubuhiku hari
ini. Aku sempat melirik jam, sudah jam hampir 2 siang, artinya sudah
lebih dari 4 jam aku berada disini dan digarap oleh mereka.
Aku hanya bisa pasrah saat penis pak Bonar dengan mudahnya memasuki
lubang vaginaku. Aku sudah tak punya tenaga lagi untuk melawannya. Aku
biarkan saja dia berbuat apapun pada tubuhku. Saat itu samar-samar ku
dengan bel rumah ini berbunyi. Aku menoleh, kulihat pak Jamal dengan
santainya, masih dalam keadaan telanjang bulat berjalan ke depan untuk
membukakan pintu.
“Siang pak,” kudengar suara seorang perempuan. Kalau aku tidak salah,
itu adalah suara Sarah. Kenapa Sarah kesini? Apa disuruh pak Jamal?
Dan ternyata benar, tak lama kemudian kulihat Sarah berjalan kemari
ditarik tangannya oleh pak Jamal. Dia begitu kaget melihatku, begitu
juga aku.
“Pak Jamal, ini apa?” tanya Sarah.
Pak Jamal tak menjawabnya, tapi langsung menyergap tubuh Sarah. Kulihat
tak ada perlawanan berarti dari Sarah. Karena mungkin dia sama
sepertiku, sudah menjadi budak nafsu pak Jamal, seperti yang kemarin dia
ceritakan padaku.
Sarah hanya diam saja ketika dia ditelanjangi. Pakaian dinasnya satu
persatu lepas dari tubuhnya, begitu juga dengan pakaian dalamnya. Dia
sekarang sama sepertiku, hanya menyisakan jilbab di kepalanya saja. Dan
ternyata benar perkiraanku selama ini, tubuh Sarah terlihat lebih seksi
dan montok dibandingkan aku. Payudaranya lebih besar dariku, begitu juga
bongkahan pantatnya.
Tanpa banyak bicara, pak Jamal menyeret Sarah dan dibaringkan di
sampingku. Dia sempat menatapku dengan tatapan nanar, begitu juga
denganku. Sepertinya pak Jamal tidak ingin berlama-lama, tidak ingin
pemanasan dulu dengan Sarah, mau langsung tancap gas.
“Aaahh paaakk pelaan, masih keriiing...”
Kudengar Sarah menjerit dan tubuhnya mengejang.
“Ah diem kamu Sar, biasa juga gitu..”
Pak Jamal langsung saja menghentak-hentakkan penisnya di vagina Sarah.
Tubuhnya melonjak-lonjak membuat kedua buah dadanya bergerak naik turun.
Pak Bonar rupanya tak mau kalah, dia yang tadinya menyetubuhiku dengan
lembut, tiba-tiba berubah kasar. Sarah masih terus merintih dan
menjerit, tapi tak melakukan perlawanan. Sedangkan aku, bahkan untuk
merintih saja sudah terlalu lemas, sudah tidak ada tenaga lagi.
Beberapa menit disetubuhi seperti itu, kurasakan pak Bonar menarik lepas
penisnya. Aku membuka mataku, melihat apa yang dia lakukan. Ternyata
dia bertukar dengan pak Jamal. Dia ganti menyetubuhi Sarah, sedangkan
pak Jamal menyetubuhiku.
“Halo Sarah sayang, udah lama nggak ngerasain memekmu, haha.”
Aku terkejut mendengar ucapan pak Bonar. Berarti ini bukan pertama
kalinya dia menyetubuhi Sarah? Tapi kenapa kemarin Sarah tidak cerita
padaku? Apa karena hanya ingin menutupi dan menganggap hal ini tak perlu
diceritakan? Sepertinya memang begitu, akupun mungkin tak akan
menceritakan jika berada di posisi Sarah. Sarah hanya cerita tentang
perlakuan pak Jamal karena sudah tahu aku juga diperkosa olehnya.
Kedua lelaki itu terus menerus menyetubuhi kami. Mereka beberapa kali
bergantian. Sarahpun kulihat beberapa kali vaginanya disembur oleh
sperma pak Jamal dan pak Bonar, sama sepertiku.
Saat kulihat jam sudah jam 4 sore, aku sudah benar-benar lemas, sama
sekali tak ada tenaga lagi, dibiarkan terbaring begitu saja. Sekarang
ini pak Bonar dan pak Jamal sedang menyetubuhi Sarah depan belakang. Pak
Jamal berada di bawah dengan penisnya di vagina Sarah, sedangkan pak
Bonar di atas dengan penisnya di anus Sarah.
Bisa kulihat Sarah terus menerus merintih dan mendesah, tapi sepertinya
dia tidak terlalu kesakitan seperti aku tadi. Mungkin karena dia pernah
merasakan yang seperti itu, berbeda dengan aku yang baru tadi pagi
dihajar depan belakang seperti itu.
Beberapa menit lamanya mereka dalam posisi itu, sampai akhirnya badan
pak Jamal dan pak Bonar mengejang, diikuti tak lama kemudian oleh Sarah.
Ketiganya orgasme. Setelah itu mereka tampak beristirahat. Aku
benar-benar berharap, acara gila ini selesai sampai disini. Sudah sore,
aku ingin segera pulang. Meskipun aku tahu mas Krisna pulangnya masih
malam, tapi aku ingin segera pergi dari rumah terkutuk ini. Dan
untungnya, harapanku ini terkabul.
“Sar, kamu masih kuat nganterin Arum pulang kan?”
“Iya pak, masih,” jawab Sarah, meskipun nafasnya masih tersengal.
“Ya udah, sana pake pakaianmu, habis itu pakein pakaian Arum juga. Terus antar dia pulang.”
“Baik pak.”
Sarah terlihat begitu menurut pada pak Jamal. Dia segera memakai
pakaiannya, tanpa membersihkan dulu bercak sperma di tubuhnya. Setelah
itu dia membantuku yang masih lemas untuk berpakaian. Dia juga tak
membersihkan bercak-bercak yang menempel di tubuhku. Setelah aku selesai
dipakaikan pakaian, Sarah kemudian memapahku keluar rumah. Ternyata
hari ini membawa mobil, entah mobil siapa karena setahuku Sarah tak
punya mobil. Tapi aku tak ambil pusing, yang penting aku segera sampai
rumah.
Sepanjang perjalanan kami sama sekali tak ada yang bicara. Aku masih
terlalu capek, kalau Sarah, entahlah. Tak lama kemudian, aku sudah
sampai di rumah. Sarah kembali membantuku turun dari mobil dan memapahku
masuk ke dalam rumah.
“Mau mandi sekalian Rum?”
Aku hanya mengangguk. Sarah hanya tersenyum, lalu membawaku ke kamar
mandi. Oh iya, Sarah ini sudah pernah beberapa kali ke rumahku, jadi dia
sudah tahu dimana kamarku dan juga kamar-kamar lain. Disana dia
menelanjangiku, dan menelanjangi dirinya sendiri. Kami mandi bersama.
Bukan, lebih tempatnya, dia memandikanku sambil dia juga mandi sendiri.
Agak aneh juga rasanya. Aku hanya pernah mandi berdua dengan mas Krisna
saja, dan sekarang dengan orang lain, tapi sama-sama cewek. Setelah
mandi, Sarah membawaku ke kamar. Dia mengambilkan pakaianku dan
memakaikannya.
“Rum, aku pinjem bajumu ya? Aku nggak bawa ganti soalnya.”
“Iya Sar, silahkan. Tapi mungkin kekecilan buat kamu.”
“Ah enggak kok. Aku pinjem baju luar aja, nggak perlu pake daleman lagi.”
“Ya udah, terserah kamu aja.”
Selesai Sarah berpakaian, dia duduk di sampingku yang terbaring di ranjang.
“Kamu mau makan? Aku pesenin ya?”
Aku hanya mengangguk. Sarah kemudian keluar dari kamar, entah apa yang
dia lakukan. Agak lama dia berada di luar, kemudian masuk lagi. Dia
membawaku ke meja makan, ternyata sudah tersedia makanan di sana. Kalau
kulihat itu adalah menu makanan dari warung yang tak jauh dari rumahku.
Setelah selesai makan, dia membereskannya. Sebenarnya sudah kularang,
tapi dia memaksa, jadi aku biarkan saja. Setelah itu kami duduk di ruang
keluarga. Setelah makan ini aku merasa sudah punya cukup tenaga, tak
lemas seperti sebelumnya.
“Sar..”
“Iya, kenapa Rum?”
“Hmm, kamu tadi, kok bisa ada di rumah pak Jamal?”
Dia tak menjawab, tapi mengambil handphonenya, tak lama kemudian
memberikannya kepadaku. Kulihat disitu ada chat dari pak Jamal
kepadanya.
‘Sar, kamu cepet ke rumahku sekarang. Si Arum udah nggak kuat lagi itu. Aku sama Bonar ini.’
Begitu isi pesannya.
“Sebenarnya dari kemarin aku udah nebak, pasti kamu bakal dibawa ke
rumahnya. Tapi aku sama sekali nggak kepikiran kalau ternyata ada pak
Bonar juga.”
“Apa kamu, juga kayak gitu dulu Sar?”
“Iya Rum. Yang aku tau, pak Jamal sama pak Bonar itu suka tukeran
wanita. Kalau dulu, aku dibawa pak Jamal ke rumahnya pak Bonar diluar
kota. Disana aku juga dihajar habis-habisan sama mereka, kayak kamu
tadi. Bedanya waktu itu, aku perginya 2 hari, tapi disana ada ceweknya
pak Bonar juga.”
“Pantesan, dia kayak nggak kaget waktu kamu dateng tadi.”
“Iyalah, dia udah pernah ngentotin aku.”
“Sarah, kok ngomongnya gitu sih.”
“Hehe maaf Rum. Habis aku jengkel sama mereka berdua. Lagian, aku juga
udah kebawa pak Jamal. Tiap gituan pasti ngomongnya gitu, lama-lama kan
jadi ngikut-ngikut.”
“Ya tapi jangan dibiasain lah Sar. Entar gimana kalau misalnya kamu keceplosan waktu lagi sama suami kamu?”
“Hmm, jujur aja sih, aku kalau lagi sama suami, emang suka ngomong jorok
kalau lagi gituan Rum, jadi suamiku nggak bakal kaget kalau aku jadi
vulgar.”
“Ooh gitu, pantesan. Hmm, tapi, sampai kapan ya kira-kira kita bakal
kayak gini Sar? Aku takutnya, mereka nanti bakal ngelakuin hal yang
lebih gila dari ini.”
“Entahlah Rum. Tapi aku juga berharap, yang kamu ceritain kemarin, soal
suamimu yang mau balas dendam itu, beneran terwujud, jadi kita bisa
bener-bener lepas dari mereka berdua.”
“Iya Sar, semoga aja.”
“Ya udah kalau gitu Rum. Kamu istirahat aja, kamu pasti capek banget.
Aku mau pulang dulu. Oh iya, baju kotor kita tadi udah kurendam, aku
nitip cuciin sekalian ya?”
“Iya, nanti aku cuciin. Makasih ya Sar.”
Setelah Sarah berpamintan dan pulang, akupun menuju ke kamarku. Masih
jam 6 sore, dan sepertinya mas Krisna masih lama pulangnya. Tapi
sepertinya aku ingin istirahat saja, aku benar-benar lelah hari ini.
Maafin aku mas Krisna, tidak menyambutmu pulang malam ini, maafin juga
nggak masakin makan malam buat kamu, semoga kamu udah makan di kantor.
Dan maafin aku juga, karena hari ini aku kembali harus dipaksa melayani
orang lain, dan sepertinya aku tidak akan menceritakan ini semua ke
kamu. Maaf.
Jangan Lupa Baca Juga :
Hubungi kami Untuk Melakukan Pendaftaran :
- Whatsapp JINTOTO : +855975107657
- Line JINTOTO : JINTOTOO